BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
LATAR
BELAKANG
Sejak lama diketahui bahwa orang yang hidup dengan infeksi Human
Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome HIV/AIDS (ODHA)
dalam perjalanan penyakitnya dapat mengalami suatu bentuk gangguan psikiatri
yaitu depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, penyalahgunaan zat, dan diagnosis
psikiatri lainnya. Gangguan psikiatri pada ODHA dikaitkan dengan banyak hal,
yaitu progresifitas penyakitnya, akibat pengobatan yang diberikan, dan stigma
dari masyarakat tentang penyakit HIV/AIDS itu sendiri. Gangguan psikiatri berat
akan menimbulkan beban bagi keluarga, masyarakat, serta pemerintah. Dari sudut
pandang pemerintah, gangguan psikiatri yang muncul ini akan menghabiskan biaya
pelayanan kesehatan yang lebih besar.
Tidak berbeda dengan gangguan jiwa, masalah infeksi HIV dan AIDS
adalah masalah besar yang mengancam Indonesia dan banyak negara di dunia.
Hingga saat ini, jumlah penyandang penyakit HIV/AIDS cenderung meningkat. Di
Indonesia, sampai bulan Desember 2014 sudah dilaporkan sebanyak 150.296 orang
dengan HIV postitf dan 55.799 AIDS. Menurut perkiraan Komisi Penanggulangan
AIDS Nasional, jumlah orang dengan HIV positif di Indonesia adalah 600.000
orang. HIV/AIDS menyebabkan berbagai krisis secara bersamaan, dari krisis
kesehatan, krisis pembangunan negara, krisis ekonomi, pendidikan, dan juga
krisis kemanusiaan.
Seperti telah
disebutkan sebelumnya, salah satu penyebab gangguan psikiatri pada pasien
dengan HIV/ AIDS adalah stigma masyarakat. Stigma pada ODHA di antaranya yaitu
dianggap sebagai sampah masyarakat, pengguna narkotika, dan pelanggan
lokalisasi. Stigma ini akan menimbulkan efek psikologis yang berat pada ODHA
dan dapat menyebabkan kurangnya penghargaan diri, keputusasaan, hingga depresi.
HIV sendiri memiliki efek langsung pada otak yang dapat menyebabkan gangguan
neurokognitif, perubahan perilaku ataupun psikosis. Psikosis dan HIV/AIDS
merupakan suatu komorbid pada beberapa subjek, dimana HIV/AIDS meningkatkan
risiko untuk mengembangkan psikosis, baik sebagai efek langsung infeksi HIV
pada sistem saraf pusat ataupun obat-obatan yang digunakan dalam penanganan
infeksi HIV.
Gangguan psikiatri
terkait stigma dan terapi ARV yang muncul pada pasien HIV akan memengaruhi
kualitas hidup pasien. Sehingga, diperlukan studi mengenai hubungan stigma dan
terapi ARV dengan komplikasi gangguan psikiatri pada pasien HIV/AIDS.
Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi yang lebih lengkap
tentang pengaruh gangguan psikiatri pada penderita infeksi HIV/AIDS, sehingga
dapat dilakukan pelayanan kesehatan yang komprehensif, baik pada fisik maupun
psikis pasien.
1.2 RUMUSAN
MASALAH
1. Bagaimanakah
definisi dari HIV/AIDS itu ?
2. Bagaimanakah
penyebab dan tanda gejala virus HIV/AIDS ?
3. Bagaimanakah
pencegahan kasus HIV/AIDS ?
4. Bagaimanakah
klasifikasi gangguan jiwa pada pasien HIV/AIDS?
1.3
Tujuan
1.3.1
Tujuan
Umum
Makalah ini bertujuan
untuk mengetahui komplikasi gangguan psikiatri dengan pasien HIV/AIDS
1.3.2
Tujuan
Khusus
1. Untuk
mengetahui gambaran mengenai definisi dari HIV/AIDS
2. Untuk
mengetahui gambaran penyebab dan tanda gejala virus HIV
3. Untuk
mengetahui gambaran pencegahan HIV/AIDS
4. Untuk
mengetahui klasifikasi gangguan jiwa dengan pasien HIV/AIDS
1.4
Manfaat
1.4.1
Manfaat
Teoritis
Penelitian ini
memberikan tambahan pengetahuan komplikasi gangguan psikiatri kepada pasien HIV/AIDS
1.4.2
Manfaat
Praktis
a. Rumah
Sakit
Hasil penelitaan
ini diharapkan dapat memberi masukan bagi tenaga kesehatan. Dalam meningkatkan
mutu pelayanan di bidang kesehatan.
b. Bagi
Perawat
Membantu perawat
agar mengetahui manajemen pencegahan yang harus diberikan kepada pasien
HIV/AIDS.
c. Bagi
Peneliti
Hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman bagi penulis dibidang
penelitian, serta penelitian ini dapat menjadi referensi untuk pengembangan penelitian
tentang manajemen pencegahan kepada pasien HIV/AIDS.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PENGERTIAN
HIV
(Human Immuno–Devesiensi) adalah virus yang hanya hidup dalam tubuh manusia,
yang dapat merusak daya kekebalan tubuh manusia.
AIDS (Acguired
Immuno–Deviensi Syndromer) adalah kumpulan gejala menurunnya gejalakekebalan
tubuh terhadap serangan penyakit dari luar.
Bahaya Aids
Orang
yang telah mengidap virus AIDS akan menjadi pembawa dan penular AIDS selama
hidupnya, walaupun tidak merasa sakit dan tampak sehat. AIDS juga dikatakan
penyakit yang berbahaya karena sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang
bisa mencegah virus AIDS. Selain itu orang terinfeksi virus AIDS akan merasakan
tekanan mental dan penderitaan batin karena sebagian besar orang di sekitarnya
akan mengucilkan atau menjauhinya. Dan penderitaan itu akan bertambah lagi
akibat tingginya biaya pengobatan. Bahaya AIDS yang lain adalah menurunnya
sistim kekebalan tubuh. Sehingga serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya
pun akan menyebabkan sakit atau bahkan meninggal.Secara etiologi, HIV, yang
dahulu disebut virus limfotrofik sel-T manusia tipe III (HTLV-III) atau virus
limfadenopati (LAV), adalah suatu retrovirus manusia sitopatik dari famili
lentivirus. Retrovirus mengubah asam ribonukleatnya (RNA) menjadi asam
deoksiribonukleat (DNA) setelah masuk ke dalam sel pejamu. HIV-1 dan HIV-2
adalah lentivirus sitopatik, dengan HIV-1 menjadi penyebab utama AIDS di
seluruh dunia.Genom HIV mengode sembilan protein yang esensial untuk setiap
aspek siklus hidup virus (Gbr. 15-1). Dari segi struktur genomik, virus-virus
memiliki perbedaan yaitu bahwa protein HIV-1,Vpu, yang membantu pelepasan
virus, tampaknya diganti oleh protein Vpx pada HIV-2. Vpx meningkatkan
infeksi-vitas (daya tular) dan mungkin merupakan duplikasi dari protein lain,
Vpr. Vpr diperkirakan meningkatkan transkripsi virus. HIV-2, yang pertama kali
diketahui dalam serum dari para perempuan Afrika Barat (warga Senegal) pada
tahun 1985, menyebabkan penyakit klinis tampaknya kurang patogenik dibandingkan
dengan HIV-1.
2.2 PENYEBAB
DAN TANDA-TANDA TERSERANG HIV/AIDS
HIV
tidak ditularkan atau disebarkan melalui hubungan sosial yang biasa seperti
jabatan tangan, bersentuhan, berciuman biasa, berpelukan, penggunaan peralatan
makan dan minum, gigitan nyamuk, kolam renang, penggunaan kamar mandi atau
WC/Jamban yang sama atau tinggal serumah bersama Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).
ODHA yaitu pengidap HIV atau AIDS. Sedangkan OHIDA (Orang hidup dengan HIV atau
AIDS) yakni keluarga (anak, istri, suami, ayah, ibu) atau teman-teman pengidap
HIV atau AIDS.
Lebih dari 80% infeksi HIV diderita oleh kelompok usia produktif terutama laki-laki, tetapi proporsi penderita HIV perempuan cenderung meningkat. Infeksi pada bayi dan anak, 90 % terjadi dari Ibu pengidap HIV. Hingga beberapa tahun, seorang pengidap HIV tidak menunjukkan gejala-gejala klinis tertular HIV, namun demikian orang tersebut dapat menularkan kepada orang lain. Setelah itu, AIDS mulai berkembang dan menunjukkan tanda-tanda atau gejala-gejala.Tanda-tanda klinis penderita AIDS :
Lebih dari 80% infeksi HIV diderita oleh kelompok usia produktif terutama laki-laki, tetapi proporsi penderita HIV perempuan cenderung meningkat. Infeksi pada bayi dan anak, 90 % terjadi dari Ibu pengidap HIV. Hingga beberapa tahun, seorang pengidap HIV tidak menunjukkan gejala-gejala klinis tertular HIV, namun demikian orang tersebut dapat menularkan kepada orang lain. Setelah itu, AIDS mulai berkembang dan menunjukkan tanda-tanda atau gejala-gejala.Tanda-tanda klinis penderita AIDS :
1. Berat badan menurun lebih dari 10 %
dalam 1 bulan
2. Diare kronis yang berlangsung lebih
dari 1 bulan
3. Demam berkepanjangan lebih dari1
bulan
4. Penurunan kesadaran dan
gangguan-gangguan neurologis
5. Dimensia/HIV ensefalopati
Gejala minor :
1. Batuk menetap lebih dari 1 bulan
2. Dermatitis generalisata yang gatal
3. Adanya Herpes zoster multisegmental
dan berulang
4. Infeksi jamur berulang pada alat
kelamin wanita
HIV dan AIDS dapat menyerang siapa
saja. Namun pada kelompok rawan mempunyai risiko besar tertular HIV penyebab
AIDS, yaitu :
1.Orang yang berperilaku seksual
dengan berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan kondom
2.Pengguna narkoba suntik yang
menggunakan jarum suntik secara bersama-sama
3.Pasangan seksual pengguna narkoba
suntik
4.Bayi yang ibunya positif HIV
Para
ahli menjelaskan bahwa Tanda dan Gejala Penyakit AIDS seseorang yang terkena
virus HIV pada awal permulaan umumnya tidak memberikan tanda dan gejala yang
khas, penderita hanya mengalami demam selama 3 sampai 6 minggu tergantung daya
tahan tubuh saat mendapat kontak virus HIV tersebut. Setelah kondisi membaik,
orang yang terkena virus HIV akan tetap sehat dalam beberapa tahun dan perlahan
kekebelan tubuhnya menurun/lemah hingga jatuh sakit karena serangan demam yang
berulang. Satu cara untuk mendapat kepastian adalah dengan menjalani Uji
Antibodi HIV terutamanya jika seseorang merasa telah melakukan aktivitas yang
berisiko terkena virus HIV.
Adapun tanda dan gejala yang tampak pada penderita penyakit AIDS diantaranya adalah seperti dibawah ini :
Adapun tanda dan gejala yang tampak pada penderita penyakit AIDS diantaranya adalah seperti dibawah ini :
1. Saluran pernafasan. Penderita
mengalami nafas pendek, henti nafas sejenak, batuk, nyeri dada dan demam seprti
terserang infeksi virus lainnya (Pneumonia). Tidak jarang diagnosa pada stadium
awal penyakit HIV AIDS diduga sebagai TBC.
2. Saluran Pencernaan. Penderita
penyakit AIDS menampakkan tanda dan gejala seperti hilangnya nafsu makan, mual
dan muntah, kerap mengalami penyakit jamur pada rongga mulut dan kerongkongan,
serta mengalami diarhea yang kronik.
3. Berat badan tubuh. Penderita
mengalami hal yang disebut juga wasting syndrome, yaitu kehilangan berat badan
tubuh hingga 10% dibawah normal karena gangguan pada sistem protein dan energy
didalam tubuh seperti yang dikenal sebagai Malnutrisi termasuk juga karena gangguan
absorbsi/penyerapan makanan pada sistem pencernaan yang mengakibatkan diarhea
kronik, kondisi letih dan lemah kurang bertenaga.
4. System Persyarafan. Terjadinya
gangguan pada persyarafan central yang mengakibatkan kurang ingatan, sakit
kepala, susah berkonsentrasi, sering tampak kebingungan dan respon anggota
gerak melambat. Pada system persyarafan ujung (Peripheral) akan menimbulkan
nyeri dan kesemutan pada telapak tangan dan kaki, reflek tendon yang kurang,
selalu mengalami tensi darah rendah dan Impoten.
5. System Integument (Jaringan kulit).
Penderita mengalami serangan virus cacar air (herpes simplex) atau carar api
(herpes zoster) dan berbagai macam penyakit kulit yang menimbulkan rasa nyeri
pada jaringan kulit. Lainnya adalah mengalami infeksi jaringan rambut pada
kulit (Folliculities), kulit kering berbercak (kulit lapisan luar retak-retak)
serta Eczema atau psoriasis.
6. Saluran kemih dan Reproduksi pada
wanita. Penderita seringkali mengalami penyakit jamur pada vagina, hal ini
sebagai tanda awal terinfeksi virus HIV. Luka pada saluran kemih, menderita
penyakit syphillis dan dibandingkan Pria maka wanita lebih banyak jumlahnya
yang menderita penyakit cacar. Lainnya adalah penderita AIDS wanita banyak yang
mengalami peradangan rongga (tulang) pelvic dikenal sebagai istilah 'pelvic
inflammatory disease (PID)' dan mengalami masa haid yang tidak teratur
(abnormal).
2.3 PENCEGAHAN
DAN PENANGGULANGAN HIV/AIDS
Cara pencegahan:
1. Hindarkan hubungan seksual diluar
nikah. Usahakan hanya berhubungan dengan satu orang pasangan seksual, tidak
berhubungan dengan orang lain.
2. Pergunakan kondom bagi resiko tinggi
apabila melakukan hubungan seksual.
3. Ibu yang darahnya telah diperiksa
dan ternyata mengandung virus, hendaknya jangan hamil. Karena akan memindahkan
virus AIDS pada janinnya.
4. Kelompok resiko tinggi di anjurkan
untuk menjadi donor darah.
5. Penggunaan jarum suntik dan alat
lainnya ( akupuntur, tato, tindik ) harus dijamin sterilisasinya.
Adapun usaha-usaha yang dapat
dilakukan pemerintah dalam usaha untuk mencegah penularan AIDS yaitu, misalnya
: memberikan penyuluhan-penyuluhan atau informasi kepada seluruh masyarakat
tentang segala sesuatau yang berkaitan dengan AIDS, yaitu melalui
seminar-seminar terbuka, melalui penyebaran brosur atau poster-poster yang
berhubungan dengan AIDS, ataupun melalui iklan diberbagai media massa baik
media cetak maupun media elektronik.penyuluhan atau informasi tersebut
dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan, kepada semua lapisan
masyarakat, agar seluarh masyarakat dapat mengetahui bahaya AIDS, sehingga
berusaha menghindarkan diri dari segala sesuatu yang bisa menimbulkan virus
AIDS.
Pengobatan Penyakit AIDS:
Kendatipun dari berbagai negara
terus melakukan researchnya dalam mengatasi HIV AIDS, namun hingga saat ini
penyakit AIDS tidak ada obatnya termasuk serum maupun vaksin yang dapat
menyembuhkan manusia dari Virus HIV penyebab penyakit AIDS. Adapun tujuan
pemberian obat-obatan pada penderita AIDS adalah untuk membantu memperbaiki
daya tahan tubuh, meningkatkan kualitas hidup bagi meraka yang diketahui
terserang virus HIV dalam upaya mengurangi angka kelahiran dan kematian.
Kita semua diharapkan untuk tidak mengucilkan dan menjauhi penderita HIV karena mereka membutuhkan bantuan dan dukungan agar bisa melanjutkan hidup tanpa banyak beban dan berpulang ke rahmatullah dengan ikhlas.
Kita semua diharapkan untuk tidak mengucilkan dan menjauhi penderita HIV karena mereka membutuhkan bantuan dan dukungan agar bisa melanjutkan hidup tanpa banyak beban dan berpulang ke rahmatullah dengan ikhlas.
2.4 KLASIFIKASI
GANGGUAN JIWA PADA PASIEN HIV/AIDS
A. Gangguan Mental
Organik
1.
HIV
Associated Dementia (HAD)
Dementia adalah sebuah syndrome yang
melibatkan kerusakan dalam berpikir, perilaku dan kemampuan untuk melakukan
aktivitas sehari-hari. Dementia dapat terjadi pada orang yang positif
terinfeksi HIV. Hal ini dulunya dikenal dengan nama AIDS Dementia Complex.
Kondisi ini terkait dengan masalah kognitif, motorik, dan perilaku yang parah
sehingga dapat menghambat kualitas hidup.
HAD adalah tingkatan yang paling parah dari
HIV Associated Neurocognitive Disorder (HAND). Pada tingkatan HAND yang lebih
rendah, ia mempengaruhi fungsi kognitif (memori, bahasa, perhatian) tetapi
tidak ditegakkan diagnosis untuk Dementia. Pada HAD fungsi kognitif sangat
dipengaruhi.
Telah ada cukup bukti yang mengatakan bahwa
HIV mempengaruhi system saraf pusat secara dini, bahkan dapat didiagnosis dalam
waktu dua minggu setelah infeksi. Ia mengikuti model “Trojan Horse” untuk
memasuki jaringan. Awalnya ia menginfeksi monosit yang bersirkulasi dan
melewati blood-brain barrier, membawa protein virus ke otak.
Tidak ada bukti dari infeksi langsung HIV
terhadap sel saraf. Oleh karena itu, mekanisme yang terlibat dalam
neuropatogenensis adalah lesi pada sel penyokong dan sitokin inflamasi (TNF,
radikal bebas, Platelet Activating Factor, Interleukin-1, dan Interferon-y yang
dihasilkan oleh sel-sel tersebut).
Selain itu, protein dari HIV seperti gp-120 adalah beracun terhadap
neuron dan sel glia
HIV telah diidentifikasi terutama pada ganglia
basalis dan hippocampus. Telah dilaporkan bahwa konsentrasi tertinggi berada
pada globus pallidus, nucleus caudatus dan white matter. Bahkan, kerusakan di
nucleus caudatus memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan gangguan
neurokognitif.
Gejala bervariasi dari orang ke orang
dan dapat berfluktuasi dari waktu ke waktu. Berbagai macam fungsi kognitif
dapat dipengaruhi, termasuk:
1. penurunan
kecepatan pemrosesan Informasi
2. memori
jangka pendek dan memori jangka panjang
3. penurunan
Kemampuan untuk belajar keterampilan baru dan memecahkan masalah
4. Penurunan
Perhatian dan konsentrasi
5. Penurunan
Logika dan Kemampuan Penalaran
6. Penurunan
Kemampuan untuk memahami dan mengekspresikan bahasa
7. Penurunan
keterampilan Tata Ruang dan koordinasi
8.
Penurunan kemampuan
Perencanaan dan pengorganisasian
2.
Delirium
Delirium adalah nama generik untuk keadaan
mental yang umum dengan beberapa kemungkinan penyebab. Tidak seperti demensia,
delirium biasanya terjadi cukup cepat dan pasien dibawa ke rumah sakit karena
perubahan jelas dalam status mental.
Seseorang yang mengalami delirium memiliki
hubungan yang membingungkan dengan lingkungan.Pasien mungkin tampak bingung,
menunjukkan kebingungan tentang waktu dan lokasi (percaya dia berada di rumah
daripada di rumah sakit), salah mengartikan lingkungan fisik (melihat
benda-benda tertentu sebagai hal-hal yang tidak jelas), dan bahkan mengalami
halusinasi dan ilusi. Gangguan perilaku seperti agitasi dan agresi adalah
gejala yang umum.
Delirium umumnya berkembang pesat selama
periode waktu yang singkat (biasanya jam sampai hari) dan berfluktuasi
sepanjang hari. Delirium, jika tidak ditangani, dapat menyebabkan pingsan,
koma, dan bahkan kematian. Kematian dapat setinggi 20%. Hal ini dianggap
sebagai darurat medis. Menemukan penyebab dari delirium dapat menjadi
menyelamatkan nyawa.
Sejumlah faktor membuat orang dengan AIDS
sangat rentan terhadap delirium. Deliriumumumnya terjadi pada orang yang
mengalami sakit fisik, dan lebih mungkin dengan penyakit parah. Banyak penyakit
otak terkait HIV dan kebanyakan obat HIV juga dapat menyebabkan delirium.
Selain itu, dua subtipe delirium, intoksikasi zat delirium dan substance-withdrawal delirium mungkin
lebih umum pada orang dengan HIV.
Dalam beberapa kasus, komplikasi dari sistem
saraf pusat termasuk sindrom kejiwaan, delirium, kejang dan gangguan kognitif, mungkin
mungkin merupakan hasil dari obat antiretroviral yang menembus SSP. AZT dan
efavirenz, yang keduanya digunakan untuk mengobati komplikasi SSP karena
kemampuannya menembus blood brain barrier,
dapat menyebabkan komplikasi neuropskiatri yang signifikan.
Delirium pada AIDS dapat disebabkan oleh
sejumlah faktor dalam kombinasi termasuk kelainan metabolik, sepsis,
hipoksemia, anemia, infeksi SSP dan keganasan, hampir semua obat terkait HIV,
opioid, dan zat terlarang. Infeksi HIV awal juga dapat menyebabkan delirium.
Delirium
ditandai oleh perubahan kewaspadaan atau kognisi dan ketidakmampuan untuk
berkonsentrasi atau memproses rangsangan eksternal. Delirium dapat menyebabkan
pergeseran yang cepat dan tak terduga dari satu keadaan emosional kepada
keadaan yang lain. Seseorang mengalami masalah dengan siklus tidur, termasuk
kantuk di siang hari, malam hari agitasi, dan gangguan pada kesinambungan tidur
harus dievaluasi untuk delirium. Gangguan emosi, seperti kecemasan, ketakutan,
depresi, mudah tersinggung, marah, euforia, dan apatis juga harus dievaluasi.
Delirium
sering membawa serta perubahan di tingkat energi. Subtipe Delirium yang
mempengaruhi aktivitas psikomotor meliputi "hiperaktif" (atau
gelisah, hyperalert), dan
"hypoactive" (lesu, hypoalert)
atau mixed delirium.
Pada
hari-hari sebelum timbulnya delirium, pasien mungkin mengalami kegelisahan,
kecemasan, mudah tersinggung, distractibility atau gangguan tidur. Tanda-tanda
prodromal biasanya berkembang menjadi delirium
full-blown dalam waktu satu sampai tiga hari.
B.
Gangguan Fungsional
Saat
seseorang diberitahu bahwa dia terinfeksi HIV maka responnya beragam. Pada
umumnya dia akan mengalami lima tahap yang digambarkan oleh Kubler Ross yaitu
penolakan, marah, tawar-menawar, depresi dan penerimaan.Respon permulaan ini biasanya
akan dilanjutkan dengan respons lain sampai pada akhirnya dapat menerima.
Penerimaan seseorang tentang keadaan dirinya yang terinfeksi HIV belum tentu
juga akan diterima dan didukung oleh lingkungannya. Beban yang diderita Odha
baik karena gejala penyakit yang bersifat organik maupun beban psikososial
dapat menimbulkan rasa cemas. Depresi berat bahkan sampai keinginan bunuh diri.
1.
Depresi
Depresi adalah sindrom kejiwaan yang
paling umum dilaporkan dalam studi antara orang yang terinfeksi HIV. Depresi
besar pada populasi HIV-positif meningkat sekitar dua kali lipat di atas mereka
dalam sampel masyarakat yang sehat. Tingkat depresi telah berkisar dari 5
sampai 25 persen atau bahkan lebih tinggi. Di antara pasien depresi,
20 persen menyatakan keinginan kematian, 12 persen melaporkan ideations bunuh
diri sesekali, dan 6 persen melaporkan ideations bunuh diri terus-menerus
sedangkan 8 persen telah membuat upaya untuk melakukan bunuh diri. Terutama
semua orang yang telah mencoba bunuh diri, memiliki sejarah masa lalu dari
penyakit jiwa. Semua upaya bunuh diri yang dilakukan selama minggu pertama
setelah diketahuinya status seropositif.
Ada beberapa hambatan diagnosis
depresi pada orang yang terinfeksi HIV. Pertama, pasien sering tidak membahas
suasana hati atau emosi dengan profesional perawatan kesehatan mereka karena
takut akan stigma. Kedua, profesional perawatan kesehatan dapat melihat depresi
sebagai reaksi normal terhadap infeksi daripada memperlakukannya sebagai
kondisi yang perlu penilaian, rujukan dan pengobatan. Akhirnya, kesulitan dalam
mendiagnosis depresi karena gejala somatik seperti kelelahan, kehilangan nafsu
makan, konsentrasi yang buruk dapat mempersulit diagnosis pada orang yang
terinfeksi HIV sakit secara fisik. Untuk mengatasi hal ini, gejala psikologis
kardinal depresi harus dicari untuk konfirmasi diagnosis. Ini termasuk suasana
hati sedih, kehilangan minat atau kesenangan, merasa tidak berharga, bunuh
diri, perasaan gagal atau dosa. Profesional kesehatan harus mendorong ekspresi
emosi di klinik dan membutuhkan pelatihan dalam penilaian sindrom kejiwaan
Gejala dari depresi terbagi menjadi 2
kategori yakni gejala afektif dan gejala somatik. Gejala afektif meliputi afek
depresif, perasaan bersalah, putus asa bahkan terdapat ide untuk bunuh diri.
Sedangkan gejala somatik meliputi penurunan berat badan, gangguan tidur,
agitasi, mudah lelah, dan penurunan konsentrasi.
2.
Gangguan
Anxietas
Anxietas adalah
gejala yang umum terjadi pada pasien HIV. Ketika sebuah gejala anxietas menjadi
berat atau menetap, maka pasien tersebut mengalami gangguan anxietas. Gangguan
ini termasuk gangguan penyesuaian, OCD, gangguan panik, PTSD, dan cemas
menyeluruh. Orang yang memiliki riwayat gangguan anxietas dan depresi berat
adalah mereka yang memiliki keterbatasan dukungan sosial. Seiring berjalannya
waktu, anxietas pada pasien HIV dapat semakin memburuk.
BAB
III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Kenali
bahwa penegakan diagnosis AIDS sangat menimbulkan distress pada pasien karena
dampak sosial yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut dan prognosis tidak
menggembirakan. Pasien dapat kehilangan pekerjaan dan rasa aman finansial
selain itu kehilangan dukungan keluarga dan sahabat-sahabatnya. Lakukan
tindakan yang terbaik untuk membantu pasien mengatasi perubahan citra tubuh
yang menjadi beban emosional akibat sakit yang serius dan acaman kematian.
Manifestasi
psikiatrik yang sering dijumpai berhubungan dengan infeksi HIV berupa gangguan
fungsional seperti depresi, cemas, gangguan, hingga keinginan untuk bunuh diri.
Dapat juga dijumpai gangguan mental organik seperti demensia dan delirium.
Meskipun begitu, juga dapat dikhawatirkan perubahan suasana afektif dari pasien
ini juga dipengaruhi oleh obat-obatan HIV/AIDS. Sehingga seorang psikiater
harus lebih mampu melihat gangguan ini apakah berasal dari penolakan pasien
terhadap penyakitnya maupun efek samping pengobatannya.
3.2
SARAN
Penyakit HIV/AIDS telah menjadi pandemi yang
mengkhawatirkan masyarakat dunia, karena di samping belum ditemukan obat dan
vaksin untuk pencegahan, penyakit ini juga memiliki ”window periode” dan fase
asimtomatik (tanpa gejala) yang relatif panjang dalam perjalanan penyakitnya. Oleh
karena itu, agar tidak meluasnya penyakit ini, diharapkan agar masyarakat dapat
sadar akan bahayanya penyakit ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Anthony S. Fauci, H Clifford Lane.Human Immunodeficiency Virus Disease: AIDS
and Related Disorders. In: DL Kasper, SL Hauser, JL Jameson, AS Fauci, DL
Longo, J Loscalzo, ed. by. Harrison’s
Principles of Internal Medicine. 19th ed. New York: Mc Graw Hill Education. 2015.
p1215-1227
World Health Organization. HIV/AIDS and Mental Health
[Internet]. 2008. Available from: http://apps.who.int/gb/ebwha/pdf_files/EB124/B124_6-en.pdfdiakses pada tanggal 15 November 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar