Rabu, 19 Desember 2018

Gangguan Psikiatri pada Pasien HIV


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Sejak lama diketahui bahwa orang yang hidup dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome HIV/AIDS (ODHA) dalam perjalanan penyakitnya dapat mengalami suatu bentuk gangguan psikiatri yaitu depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, penyalahgunaan zat, dan diagnosis psikiatri lainnya. Gangguan psikiatri pada ODHA dikaitkan dengan banyak hal, yaitu progresifitas penyakitnya, akibat pengobatan yang diberikan, dan stigma dari masyarakat tentang penyakit HIV/AIDS itu sendiri. Gangguan psikiatri berat akan menimbulkan beban bagi keluarga, masyarakat, serta pemerintah. Dari sudut pandang pemerintah, gangguan psikiatri yang muncul ini akan menghabiskan biaya pelayanan kesehatan yang lebih besar.
Tidak berbeda dengan gangguan jiwa, masalah infeksi HIV dan AIDS adalah masalah besar yang mengancam Indonesia dan banyak negara di dunia. Hingga saat ini, jumlah penyandang penyakit HIV/AIDS cenderung meningkat. Di Indonesia, sampai bulan Desember 2014 sudah dilaporkan sebanyak 150.296 orang dengan HIV postitf dan 55.799 AIDS. Menurut perkiraan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, jumlah orang dengan HIV positif di Indonesia adalah 600.000 orang. HIV/AIDS menyebabkan berbagai krisis secara bersamaan, dari krisis kesehatan, krisis pembangunan negara, krisis ekonomi, pendidikan, dan juga krisis kemanusiaan.
Seperti telah disebutkan sebelumnya, salah satu penyebab gangguan psikiatri pada pasien dengan HIV/ AIDS adalah stigma masyarakat. Stigma pada ODHA di antaranya yaitu dianggap sebagai sampah masyarakat, pengguna narkotika, dan pelanggan lokalisasi. Stigma ini akan menimbulkan efek psikologis yang berat pada ODHA dan dapat menyebabkan kurangnya penghargaan diri, keputusasaan, hingga depresi. HIV sendiri memiliki efek langsung pada otak yang dapat menyebabkan gangguan neurokognitif, perubahan perilaku ataupun psikosis. Psikosis dan HIV/AIDS merupakan suatu komorbid pada beberapa subjek, dimana HIV/AIDS meningkatkan risiko untuk mengembangkan psikosis, baik sebagai efek langsung infeksi HIV pada sistem saraf pusat ataupun obat-obatan yang digunakan dalam penanganan infeksi HIV.
Gangguan psikiatri terkait stigma dan terapi ARV yang muncul pada pasien HIV akan memengaruhi kualitas hidup pasien. Sehingga, diperlukan studi mengenai hubungan stigma dan terapi ARV dengan komplikasi gangguan psikiatri pada pasien HIV/AIDS. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi yang lebih lengkap tentang pengaruh gangguan psikiatri pada penderita infeksi HIV/AIDS, sehingga dapat dilakukan pelayanan kesehatan yang komprehensif, baik pada fisik maupun psikis pasien.
1.2  RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimanakah definisi dari HIV/AIDS itu ?
2.      Bagaimanakah penyebab dan tanda gejala virus HIV/AIDS ?
3.      Bagaimanakah pencegahan kasus HIV/AIDS ?
4.      Bagaimanakah klasifikasi gangguan jiwa pada pasien HIV/AIDS?

1.3  Tujuan
1.3.1   Tujuan Umum
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui komplikasi gangguan psikiatri dengan pasien HIV/AIDS
1.3.2   Tujuan Khusus
1.      Untuk mengetahui gambaran mengenai definisi dari HIV/AIDS
2.      Untuk mengetahui gambaran penyebab dan tanda gejala virus HIV
3.      Untuk mengetahui gambaran pencegahan HIV/AIDS
4.      Untuk mengetahui klasifikasi gangguan jiwa dengan pasien HIV/AIDS

1.4  Manfaat
1.4.1        Manfaat Teoritis
Penelitian ini memberikan tambahan pengetahuan komplikasi gangguan psikiatri kepada pasien HIV/AIDS
1.4.2        Manfaat Praktis
a.       Rumah Sakit
Hasil penelitaan ini diharapkan dapat memberi masukan bagi tenaga kesehatan. Dalam meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan.



b.      Bagi Perawat
Membantu perawat agar mengetahui manajemen pencegahan yang harus diberikan kepada pasien HIV/AIDS.
c.       Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman bagi penulis dibidang penelitian, serta penelitian ini dapat menjadi referensi untuk pengembangan penelitian tentang manajemen pencegahan kepada pasien HIV/AIDS.























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  PENGERTIAN
HIV (Human Immuno–Devesiensi) adalah virus yang hanya hidup dalam tubuh manusia, yang dapat merusak daya kekebalan tubuh manusia.
AIDS (Acguired Immuno–Deviensi Syndromer) adalah kumpulan gejala menurunnya gejalakekebalan tubuh terhadap serangan penyakit dari luar.
Bahaya Aids
Orang yang telah mengidap virus AIDS akan menjadi pembawa dan penular AIDS selama hidupnya, walaupun tidak merasa sakit dan tampak sehat. AIDS juga dikatakan penyakit yang berbahaya karena sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang bisa mencegah virus AIDS. Selain itu orang terinfeksi virus AIDS akan merasakan tekanan mental dan penderitaan batin karena sebagian besar orang di sekitarnya akan mengucilkan atau menjauhinya. Dan penderitaan itu akan bertambah lagi akibat tingginya biaya pengobatan. Bahaya AIDS yang lain adalah menurunnya sistim kekebalan tubuh. Sehingga serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun akan menyebabkan sakit atau bahkan meninggal.Secara etiologi, HIV, yang dahulu disebut virus limfotrofik sel-T manusia tipe III (HTLV-III) atau virus limfadenopati (LAV), adalah suatu retrovirus manusia sitopatik dari famili lentivirus. Retrovirus mengubah asam ribonukleatnya (RNA) menjadi asam deoksiribonukleat (DNA) setelah masuk ke dalam sel pejamu. HIV-1 dan HIV-2 adalah lentivirus sitopatik, dengan HIV-1 menjadi penyebab utama AIDS di seluruh dunia.Genom HIV mengode sembilan protein yang esensial untuk setiap aspek siklus hidup virus (Gbr. 15-1). Dari segi struktur genomik, virus-virus memiliki perbedaan yaitu bahwa protein HIV-1,Vpu, yang membantu pelepasan virus, tampaknya diganti oleh protein Vpx pada HIV-2. Vpx meningkatkan infeksi-vitas (daya tular) dan mungkin merupakan duplikasi dari protein lain, Vpr. Vpr diperkirakan meningkatkan transkripsi virus. HIV-2, yang pertama kali diketahui dalam serum dari para perempuan Afrika Barat (warga Senegal) pada tahun 1985, menyebabkan penyakit klinis tampaknya kurang patogenik dibandingkan dengan HIV-1.





2.2  PENYEBAB DAN TANDA-TANDA TERSERANG HIV/AIDS
HIV tidak ditularkan atau disebarkan melalui hubungan sosial yang biasa seperti jabatan tangan, bersentuhan, berciuman biasa, berpelukan, penggunaan peralatan makan dan minum, gigitan nyamuk, kolam renang, penggunaan kamar mandi atau WC/Jamban yang sama atau tinggal serumah bersama Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). ODHA yaitu pengidap HIV atau AIDS. Sedangkan OHIDA (Orang hidup dengan HIV atau AIDS) yakni keluarga (anak, istri, suami, ayah, ibu) atau teman-teman pengidap HIV atau AIDS.
Lebih dari 80% infeksi HIV diderita oleh kelompok usia produktif terutama laki-laki, tetapi proporsi penderita HIV perempuan cenderung meningkat. Infeksi pada bayi dan anak, 90 % terjadi dari Ibu pengidap HIV. Hingga beberapa tahun, seorang pengidap HIV tidak menunjukkan gejala-gejala klinis tertular HIV, namun demikian orang tersebut dapat menularkan kepada orang lain. Setelah itu, AIDS mulai berkembang dan menunjukkan tanda-tanda atau gejala-gejala.Tanda-tanda klinis penderita AIDS :
1.   Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan
2.   Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
3.   Demam berkepanjangan lebih dari1 bulan
4.   Penurunan kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis
5.   Dimensia/HIV ensefalopati
Gejala minor :
1.      Batuk menetap lebih dari 1 bulan
2.      Dermatitis generalisata yang gatal
3.      Adanya Herpes zoster multisegmental dan berulang
4.      Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita
HIV dan AIDS dapat menyerang siapa saja. Namun pada kelompok rawan mempunyai risiko besar tertular HIV penyebab AIDS, yaitu :
1.Orang yang berperilaku seksual dengan berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan kondom
2.Pengguna narkoba suntik yang menggunakan jarum suntik secara bersama-sama
3.Pasangan seksual pengguna narkoba suntik
4.Bayi yang ibunya positif HIV
        Para ahli menjelaskan bahwa Tanda dan Gejala Penyakit AIDS seseorang yang terkena virus HIV pada awal permulaan umumnya tidak memberikan tanda dan gejala yang khas, penderita hanya mengalami demam selama 3 sampai 6 minggu tergantung daya tahan tubuh saat mendapat kontak virus HIV tersebut. Setelah kondisi membaik, orang yang terkena virus HIV akan tetap sehat dalam beberapa tahun dan perlahan kekebelan tubuhnya menurun/lemah hingga jatuh sakit karena serangan demam yang berulang. Satu cara untuk mendapat kepastian adalah dengan menjalani Uji Antibodi HIV terutamanya jika seseorang merasa telah melakukan aktivitas yang berisiko terkena virus HIV.
Adapun tanda dan gejala yang tampak pada penderita penyakit AIDS diantaranya adalah seperti dibawah ini :
1.      Saluran pernafasan. Penderita mengalami nafas pendek, henti nafas sejenak, batuk, nyeri dada dan demam seprti terserang infeksi virus lainnya (Pneumonia). Tidak jarang diagnosa pada stadium awal penyakit HIV AIDS diduga sebagai TBC.
2.      Saluran Pencernaan. Penderita penyakit AIDS menampakkan tanda dan gejala seperti hilangnya nafsu makan, mual dan muntah, kerap mengalami penyakit jamur pada rongga mulut dan kerongkongan, serta mengalami diarhea yang kronik.
3.      Berat badan tubuh. Penderita mengalami hal yang disebut juga wasting syndrome, yaitu kehilangan berat badan tubuh hingga 10% dibawah normal karena gangguan pada sistem protein dan energy didalam tubuh seperti yang dikenal sebagai Malnutrisi termasuk juga karena gangguan absorbsi/penyerapan makanan pada sistem pencernaan yang mengakibatkan diarhea kronik, kondisi letih dan lemah kurang bertenaga.
4.      System Persyarafan. Terjadinya gangguan pada persyarafan central yang mengakibatkan kurang ingatan, sakit kepala, susah berkonsentrasi, sering tampak kebingungan dan respon anggota gerak melambat. Pada system persyarafan ujung (Peripheral) akan menimbulkan nyeri dan kesemutan pada telapak tangan dan kaki, reflek tendon yang kurang, selalu mengalami tensi darah rendah dan Impoten.
5.      System Integument (Jaringan kulit). Penderita mengalami serangan virus cacar air (herpes simplex) atau carar api (herpes zoster) dan berbagai macam penyakit kulit yang menimbulkan rasa nyeri pada jaringan kulit. Lainnya adalah mengalami infeksi jaringan rambut pada kulit (Folliculities), kulit kering berbercak (kulit lapisan luar retak-retak) serta Eczema atau psoriasis.
6.      Saluran kemih dan Reproduksi pada wanita. Penderita seringkali mengalami penyakit jamur pada vagina, hal ini sebagai tanda awal terinfeksi virus HIV. Luka pada saluran kemih, menderita penyakit syphillis dan dibandingkan Pria maka wanita lebih banyak jumlahnya yang menderita penyakit cacar. Lainnya adalah penderita AIDS wanita banyak yang mengalami peradangan rongga (tulang) pelvic dikenal sebagai istilah 'pelvic inflammatory disease (PID)' dan mengalami masa haid yang tidak teratur (abnormal).
2.3  PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN HIV/AIDS
Cara pencegahan:
1.   Hindarkan hubungan seksual diluar nikah. Usahakan hanya berhubungan dengan satu orang pasangan seksual, tidak berhubungan dengan orang lain.
2.   Pergunakan kondom bagi resiko tinggi apabila melakukan hubungan seksual.
3.   Ibu yang darahnya telah diperiksa dan ternyata mengandung virus, hendaknya jangan hamil. Karena akan memindahkan virus AIDS pada janinnya.
4.   Kelompok resiko tinggi di anjurkan untuk menjadi donor darah.
5.   Penggunaan jarum suntik dan alat lainnya ( akupuntur, tato, tindik ) harus dijamin sterilisasinya.
Adapun usaha-usaha yang dapat dilakukan pemerintah dalam usaha untuk mencegah penularan AIDS yaitu, misalnya : memberikan penyuluhan-penyuluhan atau informasi kepada seluruh masyarakat tentang segala sesuatau yang berkaitan dengan AIDS, yaitu melalui seminar-seminar terbuka, melalui penyebaran brosur atau poster-poster yang berhubungan dengan AIDS, ataupun melalui iklan diberbagai media massa baik media cetak maupun media elektronik.penyuluhan atau informasi tersebut dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan, kepada semua lapisan masyarakat, agar seluarh masyarakat dapat mengetahui bahaya AIDS, sehingga berusaha menghindarkan diri dari segala sesuatu yang bisa menimbulkan virus AIDS.
Pengobatan Penyakit AIDS:
Kendatipun dari berbagai negara terus melakukan researchnya dalam mengatasi HIV AIDS, namun hingga saat ini penyakit AIDS tidak ada obatnya termasuk serum maupun vaksin yang dapat menyembuhkan manusia dari Virus HIV penyebab penyakit AIDS. Adapun tujuan pemberian obat-obatan pada penderita AIDS adalah untuk membantu memperbaiki daya tahan tubuh, meningkatkan kualitas hidup bagi meraka yang diketahui terserang virus HIV dalam upaya mengurangi angka kelahiran dan kematian.
Kita semua diharapkan untuk tidak mengucilkan dan menjauhi penderita HIV karena mereka membutuhkan bantuan dan dukungan agar bisa melanjutkan hidup tanpa banyak beban dan berpulang ke rahmatullah dengan ikhlas.

2.4  KLASIFIKASI GANGGUAN JIWA PADA PASIEN HIV/AIDS
A. Gangguan Mental Organik
1.   HIV Associated Dementia (HAD)
  Dementia adalah sebuah syndrome yang melibatkan kerusakan dalam berpikir, perilaku dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Dementia dapat terjadi pada orang yang positif terinfeksi HIV. Hal ini dulunya dikenal dengan nama AIDS Dementia Complex. Kondisi ini terkait dengan masalah kognitif, motorik, dan perilaku yang parah sehingga dapat menghambat kualitas hidup.
  HAD adalah tingkatan yang paling parah dari HIV Associated Neurocognitive Disorder (HAND). Pada tingkatan HAND yang lebih rendah, ia mempengaruhi fungsi kognitif (memori, bahasa, perhatian) tetapi tidak ditegakkan diagnosis untuk Dementia. Pada HAD fungsi kognitif sangat dipengaruhi.
  Telah ada cukup bukti yang mengatakan bahwa HIV mempengaruhi system saraf pusat secara dini, bahkan dapat didiagnosis dalam waktu dua minggu setelah infeksi. Ia mengikuti model “Trojan Horse” untuk memasuki jaringan. Awalnya ia menginfeksi monosit yang bersirkulasi dan melewati blood-brain barrier, membawa protein virus ke otak.
  Tidak ada bukti dari infeksi langsung HIV terhadap sel saraf. Oleh karena itu, mekanisme yang terlibat dalam neuropatogenensis adalah lesi pada sel penyokong dan sitokin inflamasi (TNF, radikal bebas, Platelet Activating Factor, Interleukin-1, dan Interferon-y yang dihasilkan oleh sel-sel tersebut).  Selain itu, protein dari HIV seperti gp-120 adalah beracun terhadap neuron dan sel glia
  HIV telah diidentifikasi terutama pada ganglia basalis dan hippocampus. Telah dilaporkan bahwa konsentrasi tertinggi berada pada globus pallidus, nucleus caudatus dan white matter. Bahkan, kerusakan di nucleus caudatus memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan gangguan neurokognitif.
Gejala bervariasi dari orang ke orang dan dapat berfluktuasi dari waktu ke waktu. Berbagai macam fungsi kognitif dapat dipengaruhi, termasuk:
1.      penurunan kecepatan pemrosesan Informasi
2.      memori jangka pendek dan memori jangka panjang
3.      penurunan Kemampuan untuk belajar keterampilan baru dan memecahkan masalah
4.      Penurunan Perhatian dan konsentrasi
5.      Penurunan Logika dan Kemampuan Penalaran
6.      Penurunan Kemampuan untuk memahami dan mengekspresikan bahasa
7.      Penurunan keterampilan Tata Ruang dan koordinasi
8.               Penurunan kemampuan Perencanaan dan pengorganisasian
2.        Delirium
    Delirium adalah nama generik untuk keadaan mental yang umum dengan beberapa kemungkinan penyebab. Tidak seperti demensia, delirium biasanya terjadi cukup cepat dan pasien dibawa ke rumah sakit karena perubahan jelas dalam status mental.
    Seseorang yang mengalami delirium memiliki hubungan yang membingungkan dengan lingkungan.Pasien mungkin tampak bingung, menunjukkan kebingungan tentang waktu dan lokasi (percaya dia berada di rumah daripada di rumah sakit), salah mengartikan lingkungan fisik (melihat benda-benda tertentu sebagai hal-hal yang tidak jelas), dan bahkan mengalami halusinasi dan ilusi. Gangguan perilaku seperti agitasi dan agresi adalah gejala yang umum.
    Delirium umumnya berkembang pesat selama periode waktu yang singkat (biasanya jam sampai hari) dan berfluktuasi sepanjang hari. Delirium, jika tidak ditangani, dapat menyebabkan pingsan, koma, dan bahkan kematian. Kematian dapat setinggi 20%. Hal ini dianggap sebagai darurat medis. Menemukan penyebab dari delirium dapat menjadi menyelamatkan nyawa.
    Sejumlah faktor membuat orang dengan AIDS sangat rentan terhadap delirium. Deliriumumumnya terjadi pada orang yang mengalami sakit fisik, dan lebih mungkin dengan penyakit parah. Banyak penyakit otak terkait HIV dan kebanyakan obat HIV juga dapat menyebabkan delirium. Selain itu, dua subtipe delirium, intoksikasi zat delirium dan substance-withdrawal delirium mungkin lebih umum pada orang dengan HIV.
    Dalam beberapa kasus, komplikasi dari sistem saraf pusat termasuk sindrom kejiwaan, delirium, kejang dan gangguan kognitif, mungkin mungkin merupakan hasil dari obat antiretroviral yang menembus SSP. AZT dan efavirenz, yang keduanya digunakan untuk mengobati komplikasi SSP karena kemampuannya menembus blood brain barrier, dapat menyebabkan komplikasi neuropskiatri yang signifikan.   
    Delirium pada AIDS dapat disebabkan oleh sejumlah faktor dalam kombinasi termasuk kelainan metabolik, sepsis, hipoksemia, anemia, infeksi SSP dan keganasan, hampir semua obat terkait HIV, opioid, dan zat terlarang. Infeksi HIV awal juga dapat menyebabkan delirium.
  Delirium ditandai oleh perubahan kewaspadaan atau kognisi dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi atau memproses rangsangan eksternal. Delirium dapat menyebabkan pergeseran yang cepat dan tak terduga dari satu keadaan emosional kepada keadaan yang lain. Seseorang mengalami masalah dengan siklus tidur, termasuk kantuk di siang hari, malam hari agitasi, dan gangguan pada kesinambungan tidur harus dievaluasi untuk delirium. Gangguan emosi, seperti kecemasan, ketakutan, depresi, mudah tersinggung, marah, euforia, dan apatis juga harus dievaluasi.
  Delirium sering membawa serta perubahan di tingkat energi. Subtipe Delirium yang mempengaruhi aktivitas psikomotor meliputi "hiperaktif" (atau gelisah, hyperalert), dan "hypoactive" (lesu, hypoalert) atau mixed delirium.
  Pada hari-hari sebelum timbulnya delirium, pasien mungkin mengalami kegelisahan, kecemasan, mudah tersinggung, distractibility atau gangguan tidur. Tanda-tanda prodromal biasanya berkembang menjadi delirium full-blown dalam waktu satu sampai tiga hari.
B. Gangguan Fungsional
                        Saat seseorang diberitahu bahwa dia terinfeksi HIV maka responnya beragam. Pada umumnya dia akan mengalami lima tahap yang digambarkan oleh Kubler Ross yaitu penolakan, marah, tawar-menawar, depresi dan penerimaan.Respon permulaan ini biasanya akan dilanjutkan dengan respons lain sampai pada akhirnya dapat menerima. Penerimaan seseorang tentang keadaan dirinya yang terinfeksi HIV belum tentu juga akan diterima dan didukung oleh lingkungannya. Beban yang diderita Odha baik karena gejala penyakit yang bersifat organik maupun beban psikososial dapat menimbulkan rasa cemas. Depresi berat bahkan sampai keinginan bunuh diri.
1.              Depresi
           Depresi adalah sindrom kejiwaan yang paling umum dilaporkan dalam studi antara orang yang terinfeksi HIV. Depresi besar pada populasi HIV-positif meningkat sekitar dua kali lipat di atas mereka dalam sampel masyarakat yang sehat. Tingkat depresi telah berkisar dari 5 sampai 25 persen atau bahkan lebih tinggi. Di antara pasien depresi, 20 persen menyatakan keinginan kematian, 12 persen melaporkan ideations bunuh diri sesekali, dan 6 persen melaporkan ideations bunuh diri terus-menerus sedangkan 8 persen telah membuat upaya untuk melakukan bunuh diri. Terutama semua orang yang telah mencoba bunuh diri, memiliki sejarah masa lalu dari penyakit jiwa. Semua upaya bunuh diri yang dilakukan selama minggu pertama setelah diketahuinya status seropositif.
           Ada beberapa hambatan diagnosis depresi pada orang yang terinfeksi HIV. Pertama, pasien sering tidak membahas suasana hati atau emosi dengan profesional perawatan kesehatan mereka karena takut akan stigma. Kedua, profesional perawatan kesehatan dapat melihat depresi sebagai reaksi normal terhadap infeksi daripada memperlakukannya sebagai kondisi yang perlu penilaian, rujukan dan pengobatan. Akhirnya, kesulitan dalam mendiagnosis depresi karena gejala somatik seperti kelelahan, kehilangan nafsu makan, konsentrasi yang buruk dapat mempersulit diagnosis pada orang yang terinfeksi HIV sakit secara fisik. Untuk mengatasi hal ini, gejala psikologis kardinal depresi harus dicari untuk konfirmasi diagnosis. Ini termasuk suasana hati sedih, kehilangan minat atau kesenangan, merasa tidak berharga, bunuh diri, perasaan gagal atau dosa. Profesional kesehatan harus mendorong ekspresi emosi di klinik dan membutuhkan pelatihan dalam penilaian sindrom kejiwaan
           Gejala dari depresi terbagi menjadi 2 kategori yakni gejala afektif dan gejala somatik. Gejala afektif meliputi afek depresif, perasaan bersalah, putus asa bahkan terdapat ide untuk bunuh diri. Sedangkan gejala somatik meliputi penurunan berat badan, gangguan tidur, agitasi, mudah lelah, dan penurunan konsentrasi.
2.        Gangguan Anxietas
                    Anxietas adalah gejala yang umum terjadi pada pasien HIV. Ketika sebuah gejala anxietas menjadi berat atau menetap, maka pasien tersebut mengalami gangguan anxietas. Gangguan ini termasuk gangguan penyesuaian, OCD, gangguan panik, PTSD, dan cemas menyeluruh. Orang yang memiliki riwayat gangguan anxietas dan depresi berat adalah mereka yang memiliki keterbatasan dukungan sosial. Seiring berjalannya waktu, anxietas pada pasien HIV dapat semakin memburuk.



















BAB III
PENUTUP
3.1  KESIMPULAN
      Kenali bahwa penegakan diagnosis AIDS sangat menimbulkan distress pada pasien karena dampak sosial yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut dan prognosis tidak menggembirakan. Pasien dapat kehilangan pekerjaan dan rasa aman finansial selain itu kehilangan dukungan keluarga dan sahabat-sahabatnya. Lakukan tindakan yang terbaik untuk membantu pasien mengatasi perubahan citra tubuh yang menjadi beban emosional akibat sakit yang serius dan acaman kematian.
      Manifestasi psikiatrik yang sering dijumpai berhubungan dengan infeksi HIV berupa gangguan fungsional seperti depresi, cemas, gangguan, hingga keinginan untuk bunuh diri. Dapat juga dijumpai gangguan mental organik seperti demensia dan delirium. Meskipun begitu, juga dapat dikhawatirkan perubahan suasana afektif dari pasien ini juga dipengaruhi oleh obat-obatan HIV/AIDS. Sehingga seorang psikiater harus lebih mampu melihat gangguan ini apakah berasal dari penolakan pasien terhadap penyakitnya maupun efek samping pengobatannya.

3.2  SARAN
 Penyakit HIV/AIDS telah menjadi pandemi yang mengkhawatirkan masyarakat dunia, karena di samping belum ditemukan obat dan vaksin untuk pencegahan, penyakit ini juga memiliki ”window periode” dan fase asimtomatik (tanpa gejala) yang relatif panjang dalam perjalanan penyakitnya. Oleh karena itu, agar tidak meluasnya penyakit ini, diharapkan agar masyarakat dapat sadar akan bahayanya penyakit ini.











DAFTAR PUSTAKA

Anthony S. Fauci, H Clifford Lane.Human Immunodeficiency Virus Disease: AIDS and Related Disorders. In: DL Kasper, SL Hauser, JL Jameson, AS Fauci, DL Longo, J Loscalzo, ed. by. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 19th ed.  New York: Mc Graw Hill Education. 2015. p1215-1227
World Health Organization. HIV/AIDS and Mental Health [Internet]. 2008. Available from: http://apps.who.int/gb/ebwha/pdf_files/EB124/B124_6-en.pdfdiakses pada tanggal 15 November 2018